Postingan

Menampilkan postingan dengan label Pemilu 2009

Motivasi Di Balik Kampanye.

Pada tahun ini kita di bombardir dengan berbagai kampanye , baik kampanye eksekutif ataupun kampanye legislative. Kampanye sebenarnya bertujuan menyosialisasikan visi misi setiap partai, yang ujung-ujungnya utnuk membujuk semua orang agar memilih partai mereka. Tapi saat ini antipati masyarakat terhadap kampanye begitu tinggi, mengapa hal ini dapat terjadi? Apakah para capres dan juru bicaranya tidak cukup memiliki karisma untuk menarik hati rakyat? Salah satu penyebabnya karena rakyat sudah cukup lama merasa kecewa dan tertipu dengan yang namanya kampanye . Karena itu muncul kalimat, “Kalau menjelang pemilu, semua sok baik dan obral janji. Nanti kalau sudah terpilih, lupa semua janjinya.” Kekecewaan ini yang akhirnya membuat orang tidak lagi percaya dengan kampanye. Jika dianalisis dari ilmu psikologis (hal ini tentunya oleh para ahlinya), boleh dikatakan rakyat mengalami disonansi kognitif (cognitive dissonance). Antara apa yang mereka saksikan sehari-hari dengan apa yang mereka de...

Pundi-Pundi Kekayaan Tiga Calon Presiden Bertambah.

Gambar
Benarkah lonjakaan kekayaan calon presiden terjadi karena kenaikan nilai asset mereka? Verifikasi harta kekayaan tiga calon presiden oleh tim Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini meliputi aset bergerak dan tidak bergerak. Harta bergerak meliputi uang di bank, asuransi, piutang dan kendaraan. Sedangkan harta tidak bergerak meliputi tanah, bangunan, kapal, perhiasan dan perusahaan. Pada umumnya, lonjakan kekayaan capres terjadi lantaran kenaikan aset. Hal ini yang terjadi pada SBY dan Megawati, dimana nilai aset tidak bergerak seperti rumah mengalami kenaikan nilai jual objek pajak (NJOP). Sedangkan Yusuf Kalla, separuh kekayaannya merupakan saham di berbagai perusahaan. Dimana saham tersebut tersebar di 10-13 perusahaan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat disini.

Mari Kita Memilih dengan Santun.

Setelah terpilihnya tiga pasang Capres & Cawapres dari masing-masing partai, kini giliran kita menentukan pilihan sesuai dengan pertimbangan masing-masing. Namun ada hal yang mengganjal dalam penentuan capres dan cawapres tersebut, yaitu adanya demonstrasi, baik dari masyarakat maupun mahasiswa, yang menentang pilihan capres SBY terhadap cawapres Boediono . Bahkan penentangan tersebut sampai ada demonstran yang bahkan sampai hati menginjak-injak foto Boediono disertai sumpah serapah yang tidak pada tempatnya. Sebagai seorang awam dalam perpolitikan, siapapun yang dipilih oleh calon capres terhadap calon wakilnya adalah hak mereka sepenuhnya. Sedangkan hak kita adalah memilih calon yang menurut kita mampu membawa negara ini ke arah yang positif dan lebih baik di masa depan. Sebaiknya jika kita tidak sejutu dengan capres ataupun cawapres yang diajukan oleh masing-masing partai tersebut, kita gunakan saja hak politik kita untuk tidak memilih mereka. Masih hangat dalam pikiran kita saa...

Semoga Capres & Cawapres Tidak Menderita Penyakit Lupa

Kepala RSPAD Gatot Subroto, Brigjend Supriyantoro sebagai Tim Dokter yang memeriksa kesehatan calon presiden dan wakil presiden menyerahkan hasil tes kesehatan kepada ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU), Abdul Hafiz Anshary. Dalam keterangan pers baik Tim Dokter maupun KPU enggan membeberkan hasil pemeriksaan tersebut. Namun Supriyantoro menyebutkan ada dua calon yang berusia lanjut menderita penyakit karena faktor usia , namun penyakit itu masih bisa ditoleransi sehingga masih dinilai sanggup menjalankan pemerintahan. Hasil pemeriksaan tersebut sangat diperlukan, sebab untuk memimpin negara dibutuhkan kesehatan yang prima . Jangankan memimpin sebuah negara, memimpin perusahaan saja membutuhkan pribadi-pribadi yang sehat fisik dan psikis. Salah satu syarat seorang pemimpin sebaiknya tidak boleh menunjukkan tanda-tanda demensia (pikun). Dengan begitu, mereka bisa mengingat tiap rentetan peristiwa penting yang mempengaruhi perjalanan bangsa ini. Harapannya, mereka dapat mengambil langkah-l...